PEMIRA FT 2020 DARING, SEJUMLAH EMAIL KAMPUS MAHASISWA DIBOBOL

 




SAINT NEWS Pemilu Raya Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Trunojoyo Madura (Pemira FT-UTM) telah dilaksanakan oleh Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa Fakultas Teknik (KPUM FT) dengan sistem E-Vote (04/01). Pemira E-Vote yang menggunakan platform Google Form tersebut hanya bisa diakses menggunakan email kampus yang terdaftar secara akademik. Namun, beberapa pemilih, email kampusnya diretas oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Pasalnya para pemilih yang emailnya diretas merasa belum menggunakan hak suaranya, namun sudah terverifikasi mengisi form pemilihan umum.

Mahasiswa teknik elektro angkatan 2020 yang tidak ingin disebutkan namanya mengungkapkan, bahwa email kampus miliknya ada notifikasi aktivitas log in baru dari Telang. “Kemarin waktu disuruh ganti password siakad, saya coba log in sudah tidak bisa. Padahal username sama password masih sama seperti dulu dan belum pernah diganti. Terus waktu pagi tadi ada notif email, keterangannya ada aktivitas log in baru dari Telang,” paparnya.

Dirinya juga merasa kecewa tidak dapat mengikuti pesta demokrasi tersebut dikarenakan hak suaranya telah dipakai oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. “Waktu mau menggunakan hak pilih malah tidak bisa karena sudah dipakai orang lain, jadi kecewa kak karena tidak bisa ikut partisipasi waktu pemilihan,” imbuhnya.

Sementara itu, mahasiswa baru program studi teknik mesin yang tidak ingin disebutkan namanya juga mengalami hal yang sama, dirinya juga tidak bisa mengikuti Pemira FT karena hak suaranya sudah ada yang mengisi. “Tadi sehabis matakuliah pertama saya mau nyoblos, lalu pas saya buka link ternyata link-nya sudah terisi sendiri jadi saya nggak bisa ngisi lagi. Tapi memang tadi pagi sekitar jam 10.00 WIB saya dapat notifikasi dari google security bahwa ada yang mencoba masuk ke akun email kampus saya,” jelasnya saat dikonfirmasi via WhatsApp.

Dirinya juga merasa sakit hati atas kejadian ini. Alih-alih memilih calon pilihannya, namun tidak sesuai dengan yang diharapkan. “Ya jujur ya, saya sakit hati gitu, awalnya kan saya ingin memilih calon yang terbaik menurut saya, ehh tiba-tiba pas saya mau mengisi form ternyata udah gitu. Ya kalau menurut saya, ini tidak adil,” imbuhnya.

Mochamad Mussyariful Akbar M, mahasiswa teknik informatika angkatan 2020 juga membenarkan bahwa email kampus miliknya sudah ada verifikasi mengisi form Pemira, padahal dirinya baru tahu terkait adanya pemilihan umum di fakultas teknik. "Awalnya disuruh ganti password dari kemarin-kemarin, namun saya hiraukan, karena belum ada alasan kenapa saya harus menggantinya. Lalu tadi jam 07.30 WIB saya lihat di grup angkatan disuruh ganti agar gak dipakai pemilu selain pemilik, lalu langsung saya ganti. Sesudah itu saya ada kuliah sampai jam 09.00 pagi. Jam 11.00 saya lihat WhatsApp baru tahu kalau sekarang itu waktunya pemilu. Makanya nanya ke teman, apakah wajib ikut Pemilu, lalu dijawab wajib. Pas mau memilih malah sudah ada gini (red : google form sudah terisi). Lalu saya chat ke teman kok punyaku gini. Lalu katanya aku sudah milih, padahal kabar pemilu dan link pemilu saja baru tahu tadi,” jelas mahasiswa yang akrab disapa Roby tersebut.

Roby juga menambahkan akibat dari kejadian ini dirinya merasa kesal dan lega. “Bingung, kesal, dan lega. Lega karena gak bingung lagi harus dukung siapa,” imbuhnya.

Senada dengan Roby, mahasiswa teknik elektro angkatan 2020 berinisial MRS mengatakan bahwa sudah tiga hari dirinya tidak bisa log in ke situs siakad.trunojoyo. Saat dirinya mengakses link Pemira pun sudah ada verifikasi bahwa sudah mengisi form Pemira. “Tiga hari yang lalu, sebelum ada kampanye. Ketika saya membuka link (red : link Pemira) yang keluar juga langsung ini (red : verifikasi sudah mengisi form),” paparnya.

Email kampus yang coba diretas memang rata-rata milik angkatan 2020, karena password mereka banyak yang belum diganti. Namun, ada beberapa mahasiswa fakultas teknik angkatan 2019 yang email kampusnya coba diretas. Salah satunya Ajeng K, mahasiswa teknik industri 2019 yang emailnya ada notifikasi log in dari perangkat lain. Untungnya, dirinya sudah menggunakan hak suara sesuai dengan pilihannya. “Tadi link voting dikasih ke saya langsung saya vote, kira-kira jam 08.40 WIB. Setelah itu 30 menit kemudian kalau gak salah ada notif diHp saya tapi belum saya cek, saya ceknya grup angkatan terus saya iseng buka akun dan email kampus dan ternyata ada pesan seperti itu (red: mencoba log in ke email kampus), begitu,” jelasnya.

Ajeng juga menyarankan para mahasiswa lainnya untuk segera mengganti password email yang belum diganti, agar tidak terjadi hal seperti ini lagi. “Mungkin kedepannya pesan saya untuk mahasiswa lainnya, tolong password-nya yang belum diganti dimohon untuk diganti supaya tidak terjadi hal seperti ini lagi,” imbuhnya.

Dimas, mahasiswa teknik industri angkatan 2019 juga membenarkan bahwa ada yang mencoba menggunakan sandi email kampusnya. “Pukul 08.22 WIB ada pesan masuk dari Google di email saya. Ada yang mencoba menggunakan sandi saya untuk masuk, padahal saat itu saya belum masuk ke link E-vote untuk menggunakan hak suara saya,” jelasnya.

Dimas juga merasa kecewa dikarenakan pesta demokrasi dalam jaringan (daring) yang pertama kali dilakukan di UTM, harus diciderai oleh beberapa oknum yang tidak bertanggungjawab. “Saya kecewa karena E-Vote yang baru perdana dilakukan di UTM, langsung ada beberapa oknum yang mencoba mencuranginya dengan membobol akun orang lain,” imbuhnya.

Syahdan, Feri Danafia S, selaku ketua Panitia Pengawas Pemilu FT UTM (Panwaslu) menanggapi atas kejadian ini, dirinya merasa kecewa atas kejadian ini. “Saya selaku Panwaslu sangat kecewa terkait akun maba yang dihack,” ucap mahasiswa teknik elektro angkatan 2017 tersebut.

Feri juga menambahkan, bahwa belum ada yang melapor terkait permasalahan pada Permira FT kali ini. “Untuk saat ini masih gak ada, soalnya masih belum ada yang melapor,” imbuhnya.

Tim Reporter LPM Saint mecoba menghubungi pihak KPUM FT baik secara langsung maupun via chat WhatsApp guna menggali keterangan terkait masalah ini. Namun hingga berita ini terbit, Sulton Aji Darmawan, selaku ketua KPUM FT belum bisa memberikan keterangan apapun karena masih ada kesibukan. (Uff, li, Az, Dew)

Romeltea Media
LPM - SAINT Updated at:

TANGGAPAN PENYELENGGARAAN DEBAT PEMIRA FT


SAINT NEWS – Debat kandidat calon Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Teknik (DPM FT), Calon Gubernur (Cagub) dan Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Fakultas Teknik, dan Calon Ketua Umum (ketum) dan Wakil Himpunan Fakultas Teknik Universitas Trunojoyo Madura (FT UTM) telah diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum Fakultas Teknik (KPUM FT). Acara tersebut disiarkan secara langsung via online dikanal youtube KPUM-FT serta melalui platform Google Meet pada Sabtu, 02 Januari 2021.

Acara debat kandidat yang seharusnya dimulai pukul 08.00 WIB mengalami keterlambatan sampai 50 menit. Permasalahan lain dalam pelaksanaan debat kandidat tersebut adalah suara panitia dan suara peserta debat kandidat yang tidak dapat terdengar jelas oleh penonton (red: mahasiswa teknik). Hal tersebut memunculkan berbagai tanggapan dari berbagai pihak atas kesiapan KPUM FT dalam mengadakan acara debat kandidat.

Salah satu mahasiswa teknik yang tidak ingin disebutkan namanya menaggapi, bahwa teknis pelaksaan debat yang dianggap kacau. “Segala teknis di dalam debat sangat kacau, berawal dari pemberian link debatnya, nama youtube KPUM-FT terpantau jam 08.00 WIB tidak ada, ternyata milik salah salah satu mahasiswa teknik informatika(red: channel youtube) yang diganti menjadi KPUM-FT,” ujarnya .

Mahasiswa teknik ini juga menambahkan, bahwa KPUM-FT UTM belum layak dikatakan sebagai KPUM sewajarnya. ”Menurut saya KPUM-FT UTM belum layak dikatakan KPUM sewajarnya,” imbuhnya saat dikonfirmasi via Whatsapp.

Moch Ifan Juliyanto, salah satu paslon Ketum dari Himpunan Mahasiswa Teknik Eleketro (HIMATRO), juga memberikan tanggapan mengenai pelaksanaan debat kali ini yang tidak sesuai jadwal. ”Acara debat hari ini memang tidak sesuai jadwal, alias maju dari yang sudah ditetapkan,” tuturnya.

Ifan juga menambahkan, dirinya merasa sedikit kecewa karena tidak adanya sesi tanya jawab, padahal dalam sesi tanya jawab dapat menjadi pertimbangan untuk teman-teman mahasiswa dalam menentukan pilihan. “Dari HIMATRO sendiri tadi tidak ada sesi saling lempar tanya jawab untuk paslon. Padahal sebelumnya ada, sedikit kecewa karena disana bisa juga menjadi pertimbangan untuk temen-temen mahasiswa lain dalam menentukan pilihan dari apa yang ditanggapi di sesi ini sebenernya,” imbuhnya selaku paslon yang mengikuti sesi debat.

Fahri Syaifarrahman, selaku Paslon nomor urut 01 dari Himpunan Mahasiswa Teknik Industri (HMTI), turut menanggapi pelakasanaan acara debat yang terkesan kurang persiapan dari panitia. “Tanggapan saya mengenai pelaksanaan debat tadi itu, menurut saya terkesan kurang persiapan dari panitia penyelenggara. Ada beberapa hal yang menurut saya kurang elok pada pelaksanaan debat pagi tadi, mulai dari kemoloran acara dan juga moderator yang kurang paham mengenai alur dari acara debat itu sendiri,” ungkanya.

Senada dengan Fahri, Nickyo Putra Arbaata calon Ketum nomor urut 02 dari HMTI yang juga merasa panita kurang persiapan, karena live youtube yang disiarkan oleh panitia yang bermasalah dan kurangnya antusias dari mahasiswa teknik itu sendiri. “Kalau dari saya pribadi pelaksanaan debat tadi tamapak kurang persiapan. Salah satunya dapat dilihat dari live youtube yang mati-mati terus, dan juga antusiasme dari mahasiswa-mahasiswi yang kurang terkait acara debat tadi. Sehingga sedikit yang menonton, entah apa penyebabnya,” paparnya.

Disisi lain, Deden Nur Eka Abdi, selaku Cagub paslon nomor urut 01 juga memberikan tanggapannya, mengenai penyelenggaraan debat yang dianggap luar biasa dari panitia maupun peserta. “Debat hari ini luar biasa dan dari panitia juga. Dari kami dan juga paslon sebelah saling lempar visi dan misi serta gerakan konkrit yang akan membangun Fakultas Teknik lebih baik lagi.” Tuturnya.

Paslon nomor urut 01 ini juga memahami, bahwa panitia pasti lelah dalam mempersiapkan rentetan PEMIRA-FT. “Saya paham panitia pasti lelah dalam mempersiapkan rentetan PEMIRA FT tetapi juga tetap pada masalah yang sama yaitu informasi yang sangat mendadak kalau meninjau dari tahun kemarin sangat berbeda dimana pemberitahuan informasi diberikan h-1 sebelum agenda dimulai. Jujur dari saya perlu adanya effort yang lebih untuk beradaptasi dengan informasi yang sangat mendadak,” tutupnya.

Tim reporter LPM Saint mencoba menghubungi KPUM FT melalui WhatsApp terkait acara debat kandidat kali ini. Namun hingga berita ini diterbitkan, Sulton Aji Darmawan selaku  ketua KPUM FT UTM belum bisa memberikan keterangan apapun dikarenakan slow responding. (say,ly,Az,DP)

 

 

 

 

 

 


Romeltea Media
LPM - SAINT Updated at:

RESWARA EDISI 1

 


Salam Pers Mahasiswa..

Melihat riuh Pemilu mengahru-biru, tapi negeri tetap saja terbelenggu.

-Najwa Shihab

 

Lembaga Pers Mahasiswa Sarana Informasi dan Teknologi kembali menyapamu, dengan karya yang tidak seberapa. Buletin RESWARA edisi Januari, dengan tema “Pemira Virtual, Janji Makin Bikin Mual”. Merupakan buletin untuk memperingati akan polemik-polemik pemira (pemilu raya) Fakultas Teknik Universitas Trunojoyo Madura (FT UTM). Selamat bersua :

http://bit.ly/BuletinReswaraJanuari2021

 

Terima Kasih.

Romeltea Media
LPM - SAINT Updated at:

 
back to top