SEJUMLAH HARAPAN MAHASISWA UTM, TERKAIT IMPLEMENTASI NEW NORMAL BIDANG KEUANGAN



SAINT NEWS - Rektor Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Muh Syarif, beberapa waktu lalu mengeluarkan maklumat dengan tajuk “NEW NORMAL PENDIDIKAN DI PERGURUAN TINGGI” disampaikan pada acara Rapat Anggota MRPTN pada tanggal 29 Mei 2020. (6/6)

Maklumat dengan bentuk file .ppt ini, berisikan beberapa kebijakan kampus UTM dalam menerapkan masa New Normal. Salah satu yang menjadi sorotan saat ini yaitu implementasi pada Bidang Keuangan, Sumberdaya & Sistem Informasi point 7 yang tertulis Bantuan Pulsa, penundaan pembayaran/angsuran UKT, bantuan sembako. Mengingat beberapa kampus lain sudah mengeluarkan kebijakan resmi dengan protokol yang jelas.

Ketika ditanyai perihal kebijakan tersebut, wakil rektor II bagian Bidang Administrasi dan Keuangan, Abdul Asiz Jakfar, menyatakan untuk langsung bertanya kepada humas (hubungan masyarakat). “Langsung ke humas,” ungkapnya ketika dimintai keterangan melalui via WhatsApp.

Bagian humas UTM, Hafiz, menyatakan bahwa dirinya sedang berada di sumenep dan meminta untuk langsung ke kantor. “Coba langsung ke kantor mbak, saya di sumenep belum balik (3/6),” jawabnya kepada reporter Saint.

Namun, ketika dimintai keterangan lebih lanjut mengenai kantor humas UTM. Hingga berita ini diterbitkan, Hafiz belum juga memberi tanggapan.

Menyikapi hal tersebut, ketua umum Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Pertanian, Mawar Eka Berliana menyarankan untuk seluruh Ormawa di UTM khususnya advokasi BEM dan DPM  tetap mengawal dan semangat dalam menyuarakan aspirasi mahasiswa.
“Terkait beberapa kebijakan di kampus lain sudah sangat bagus. Dan seperti yang sudah kita ketahui tidak menjadi rahasia umum lagi, UTM masih belum mengeluarkan surat edaran resmi terbaru mengenai kebijakan pembayaran registrasi/UKT untuk mahasiswa semester 2-akhir. Saran saya, seluruh ormawa UTM terlebih pada tupoksi Advokasi BEM dan DPM tetap semangat dalam menyuarakan aspirasi mahasiswa serta mengawal dalam pembuatan kebijakan baru yang dibuat oleh pemimpin dengan melihat dan mempertimbangkan kondisi di lapangan,” jelasnya.

Disisi lain, ketua umum DPM FT (Fakultas Teknik), M Lutfi Hidayat, menyarankan kepada mahasiswa UTM untuk menunggu dan tetap mengawal kebijakan yang datang.
“UTM ini kan kampus satker, jadi kita hanya bisa menunggu dari kemendikbud untuk kalangan mahasiswa. Harapan saya, semoga mendapatkan jalan yang terbaik. Baik bagi mahasiswa, pimpinan, dan UTM, sehingga tidak memberatkan kepada mahasiswa. Karena kita tahu, kita sudah tidak memakai fasilitas kampus dan kuliah daring, jadi tunggu saja kemendikbud. Teman-teman mahasiswa juga ikut mengawal baik di UTM dan kemendikbud.”

Wakil gubernur FT, Muhammad Dzakii Hasan, berpendapat bahwa UTM sudah biasa mengeluarkan kebijakan di akhir dan berharap pimpinan bisa mengambil kebijakan sesuai dengan keadaan sekarang.
“Menurut saya UTM itu sudah biasa diakhir, tidak tahu itu sistemnya diatas bagaimana. Seperti kemarin kebijakan libur untuk antisipasi penyebaran covid. Menurut saya itu terlalu akhir dibandingkan dengan kampus yang lain. Harapan saya sebagai mahasiswa, pimpinan bisa mengambil kebijakan sesuai dengan keadaan sekarang, yang sedang dilanda pandemi. Seperti memberi toleransi pembayaran UKT bagi mahasiswa yang keluarganya tidak bisa bayar UKT. Kemudian bagi mahasiswa akhir yang hanya mengerjakan skripsi saja, pimpinan bisa membebaskan pembayaran UKT untuk semester depan.”

Senada dengan Dzakii, mahasiswa Teknik Informatika, Abdul Mukti, juga berharap adanya penurunan UKT dan penggratisan bagi mahasiswa akhir.
“Meskipun sudah ada rapat tentang new normal, tapi saya kira beberapa hal yang disampaikan dalam file .ppt masih terkesan rancu. Karena untuk kebijakan kuliah semester ganjil masih belum di ketahui pastinya seperti apa dan bagaimana. Mengingat pandemi covid sudah merugikan banyak pihak, alangkah lebih baiknya ada kebijakan mengenai penurunan UKT, potongan UKT ataupun penggratisan UKT untuk mahasiswa yang hanya tinggal mengambil tugas akhir/skripsi/desertasi seperti halnya universitas negeri surabaya dan universitas negeri malang,” paparnya.

Menambahi hal tersebut, mahasiswa Teknik Elektro, Chandra, mengungkapkan bahwa kebijakan mengenai pembayaran UKT harus melihat dari semua aspek kalangan mahasiswa.
“Dari kemendikbud sudah mengeluarkan edaran, kalau pembayaran UKT mengikuti kebijakan rektor. Memang harus dipikirkan secara matang dan secepatnya. Menurut saya, kalau UTM UKT di bayar full maka saya bisa berkata UTM tidak punya hati. Karena yang saya tahu, PTN di support oleh pemerintah. Harapan saya, kebijakan harus melihat dari semua aspek lapisan mahasiswa bukan hanya kebaikan untuk kampus saja tapi juga bagaimana biar keluarga dari mahasiswa tetap bisa kuliah tanpa harus merasa tersiksa,” ungkapnya. (can, zal, Az)

Romeltea Media
LPM - SAINT Updated at:

 
back to top